Helaran Sunatan masal

Thursday, 26 May 2016

Cikiray Borong Tiga Piala pada 17 Agustus 2014


Cikiray adalah sebuah kampung yang berada di Karyasari kecamatan Cikedal Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Kampung yang dulunya memiliki selogan “Lembur intelek dan Jawara” ini kini mulai berubah setelah perginya beberapa tokoh kampung cikiray yang pada saat itu gencar dalam melakukan sosialisasi kemasyarakan.

Berdasarkan obrolan saat dengan masyarakat kampung cikiray baik yang pendatang maupun pribumi, dulu cikiray ini begitu disegani oleh masyarakat luar sehingga ketika akan memasuki kampung ini ada keseganan tersendiri. Misalnya dalam pencarian jodoh bagi laki – laki yang ingin mempersunting perempuan kampung cikiray, mereka begitu memperhitungkan kelayakan diri untuk berbuat demikian karena di dalamnya terdapat jawara – jawara dan juga berintelek warganya. Warga luar mengukur diri dengan bertanya sendiri maupun oleh orang lain, “Bisa apa lo mau masuk atau mempersunting orang cikiray? Udah bisa ngaji?”. Itu mungkin salah satu hal yang membuat kampung cikiray begitu diseganinya pada masa itu.

Perjuangan para kokolot cikiray tak berhenti sampai disitu, para pemuda yang peduli terhadap perubahan ke arah yang lebih baik di kampung inipun meneruskan usaha kokolot untuk kemaslahatan pemuda dan kampung cikiray, Tapi tentu halang rintang itu selalu ada. Di zamannya Abah amih, suasana kampung cikiray begitu hidupnya dengan masyarakat yang kontra terhadap program beliau bukan saja dari kalangan pemuda melainkan juga kokolot kp.cikiray. kegiatan hari raya maupun hari – hari bersejarah bisa dibilang mungkin selalu diisi dengan kegiatan – kegiatan. Jalan aspal juga menjadi perhatian ketika itu meskipun penggunanya masih sedikit karena hanya sebagian kecil masyarakat yang memiliki kendaraan. Pada saat itu Abah Amih mungkin bisa dibilang salah satu dari masyarakat yang memiliki kendaraan motor, dia mencoba bernegosiasi dengan lembaga setempat serta masyarakat. Namun ketika dia berlobi dengan masyarakat yang terjadi adalah penolakan dari beberapa orang yang berparadigma bahwa hal demikian hanya akan menguntungkannya saja sebagai orang yang memiliki kendaraan sedangkan kebanyakan masyarakat masih belum memiliki kendaraan. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat Abah Amih dan kawan – kawan untuk menjelaskan dan meneruskan proyek pembangunan jalan aspal ini yang akhirnya dapat terealisasikan juga.

Perjuangan belum berakhir yang disusul oleh pemuda – pemuda baru, regenerasi dilanjut. Pada masa itu ketika cikiray masih pada kecamatan menes ada kegiatan peringatan HUT RI yang ketika itu dengan inisiatifnya membuat replika kapal untuk mengiring adik – adik sekolah dasar yang hendak mengikuti upacara. Karena memang ada selebaran dari kecamatan untuk membuat karya kampung yang nantinya akan dinilai. Hampir semua masyarakat ketika itu turun mengikuti longmarch ke kecamatan menes baik anak – anak maupun orang tua.Sempat juga ketiaka hari raya di kampung ini ada hiburan dangdutan yang pemainnya adalah pemuda pemudi cikiray. Sempat juga di hari raya di lain waktu mengadakan konser band yang pemainnya juga dari pemuda cikiray.

Di tahun 2014, hari raya hanya diisi dengan kegiatan Panjat Pinang  dan bola sepak antar RT,, kemudian seminggu sebelum HUT RI para pemuda berlobi dengan kokolot untuk memeriahkan hari kemerdekaan tersebut dan alhasil pemuda didukung oleh kokolot. Kegiatan ketika itu dalam perencanaannya yaitu menghias kampung, pembuatan gapura, dan pawai ke kecamatan cikedal pada hari H. Namun dalam rapat itu juga dibahas mengenai pengaktifan kembali jadwal ronda dan pergantian kepengurusan Irema. Setelah rapat itu, pada hari minggu paginya diadakan kerja bakti pembersihan jalan. Ketka itu masyarakat berinisiatif untuk bergerak dari tonggoh ke landeh dan memang ada hal berbeda dari sebelumnya yaitu masyarakat proaktif dalam gotongroyong tersebut.

Hari kemerdekaan juga dirasa berbeda dengan sebelum – sebelumnya, jika sebelumnya kemerdekaan hanya diisi dengan upacara bagi anak sekolah, lain halnya dengan tahun 2014 ini. Pemuda berinisiatif tanpa ada instruksi dari siapapun ingin memeriahkan hari kemerdekaan yaitu dengan melakukan hiasan kampung, pembuatan gapura, dan pawai ke kecmatan cikedal. Dalam pembuatan gapura ternyata dilirik oleh pemilik salon baru untuk dijadikan ajang perlombaan antar RT, dan saat pengumuman RT 2 (Gang Penghulu Yas’a) menjadi juara pertama, RT 3 (Gang Ki Suntika) juara kedua dan RT 1 (Gang Ustadz Mudib) juara 3. Pemberian nama gang ini bertujuan untuk mengingat para pahlawan kampung cikiray di masanya dan berdasarkan tempat tinggalnya dari RT mana, dan Kegiatan dilanjutkan dengan kesenian kuda lumping Ma Rohani. Tidak hanya itu ternyata dari kecamatan ada penilaian terhadap gapura yang membuat kp.Cikiray menjadi juara 1,2, dan 3 karena memang dari kampung lain tidak ada yang membuat gapura.



Kondisi kp.Cikiray saat ini bisa dibilang memprihatikan, pasalnya baik pemuda maupun orang tua kini mulai sedikit kurang kesinergisan. kita akan mulai dari anak usia dini, dalam hal pembentukan karakter yang paling ideal adalah saat usia dini. Pengajarann itu bisa didapatkan utamanya di rumah yaitu bimbingan orang tua, namun pengajaran lain juga dapat didapat dari lingkungan berupa teman sepermainan dan tentunya dari  pendidikan sekolah baik negri, swasta, maupun sekolah agama. Di cikiray sendiri ada sekolah agama berupa majelis (MTTS) yang sasaran utamanya adalah anak – anak usia dini namun tidak menutup pintu untuk remaja dan dewasa. Majelis ini milik pribadi yaitu Abah Junaedi, namun sayangnya Abah Junaedi ini punya Faham lebih ke Muhamadiyah dengan kondisi Faham masyarakat ke Nahdotul’Ulama, seharusnya hal ini bukan menjadi hal yang membuat perbedaan yang menjurus kepada paradigma masyarakat juga. Kegiatan di majelis ini yaitu les pada sore hari dan ngaji pada malam hari ba’da magrib, namun kondisi saat ini bahwa les belum kembali diaktifkan karena memang pemuda – pemudi yang membantu Abah Junaedi dan Ibu Eha berada di luar daerah karena pendidikan. Hal ini membuat proses belajar mengajar hanya dilakukan pada malam hari. Sekolah formal yang ada di kampung ini yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI MA Cikiray) dan sempat pula di sekolah ini ada SMP MA namun hanya bertahan 3 tahun sekolah SMP ini tidak aktif lagi.  Saat ini anak – anak begitu terpaku dengan hanya mengandalkan sekolah formal berijazah. Hal tersebut membuat anak – anak tidak memiliki akttifitas yang kreatif sehingga mayoritas setelah pulang sekolah adalah bermain. Memang itu suatu kewajaran bagi setiap anak dan memang hak mereka, tapi harus dipikirkan pula bagaimana outputnya kedepan nanti jika anak – anak hanya melakukan aktifitas demikian?

Beranjak kepada kehidupan pemuda, mungkin saat ini dalam paradigma para pemuda bahwa hidup itu hanya satu kali maka dari itu nikmatilah, kita bekerja mencari uang untuk kehidupan sendiri dan keluarga baru bagi yang sudah memiliki keluarga. Namun naas dalam kehidupan pemuda yang sekolah menengah baik tingkat pertama maupun tingkat atas juga tidak mau ketinggalan abis bagian larut dalam kehidupan selayaknya orang yang sudah berpenghasilan sendiri. Kondisi yang memprihatinkan bagi generasi penerus karena mereka dihadapkan dengan yang namanya hal yang memabukan baik itu berupa minuman maupun berupa batangan yang dihisap seperti rokok, belum pasti informasi mengenai serbuk napi kalau dari isu memang ada juga penggunanya. Hal ini membuat kehidupan konsumtif para pemuda makin menjadi karena dibiasakan dengan ketenangan keasyikan dalam pergaulan. Entah dari mana mereka mendaptkan barang – barang itu tapi yang pasti mereka punya jaringan itu.

Dalam rapat evaluasi yang diselenggarakan pemuda yang mengundang para bapak – bapak kampung Cikiray, mungkin disana ajangnya mengeluarkan unek – unek bapak – bapak tentang bagaimana kesalnya mereka pada perilaku remaja dan pemuda saat itu. Beberapa perwakilan dari mereka mengutarakan tentang perbaiakan akhlak yang harus diutamakan, tinggalkan perilaku mabuk dan berjudi apalagi di malam atau hari raya. Banyak hal yang diutarakan ketika malam itu yang membuat pemuda merasa terpojokkan. Tapi kalau dianalisis, perilaku pemuda bigitu karena tidak adanya kegiatan yang mewadahi kegiatan produktif mereka, dan karena hal itu membuat pemuda berpikir daripada kita gak ada kerjaan atau gabut mendingan kita nongkrong, becanda ketawa ketiwi, nyanyi – nyanyi, atau yang lainnya. Dalam keterpojokan masukan itu tidak sepenuhnya juga pemuda disalahkan karena bagaimanapun pemuda – pemuda itu adalah anak – anaknya orang tua dari kampung cikiray yang berarti tanggung jawab penuh seharusnya berada ditangan orang tua dan jangan begitu mengandalkan aparat karena mereka juga tidak enak hati kalau harus memarahi anak orang lain. Para aparat takut menyinggun perasaan orang tua yang anaknya ia marahi sehingga menimbulan konflik nantinya.

Pembahasan  intinya yaitu tiga bahasan 1). Memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus 1945. 2). Pergantian ketua dan pengurus Ikatan Remaja Masjid Al-Ikhlas (IREMA). 3). Pengaktifan kembali jadwal ronda.

Pembahasan pertama yaitu peringatan Kemerdekaan Indonesia yang tahun ini genap Indonesia merdeka 69 Tahun. Pemuda mengutarakan rencana mereka selama seminggu sebelum hari H (Kemerdekaan) yaitu pembuatan gapura tiap gang sekalian lomba antar RT yang terdiri dari 3 RT, gotong royong bersih-bersih jalan, pemasangan bendera dan umbul-umbul sepanjang jalan, pemasangan lampu sepanjang jalan kp.Cikiray. rencana pemuda tersebut disambut baik oleh bapak – bapak dan kokolot kp. Cikiray dan siap membantu pelaksanaannya.

Pembahasan kedua yaitu pemilihan ketua dan pengurus IREMA yang sebelumnya diketuai oleh Epi. Pemilihan berlangsung secara musyawarah pemuda dan kokolot dan terpilihlah Agus (Gowi) sebagai ketua dan Ipan sebagai bendahara. Hal inipun disambut baik oleh kokolot serta dewan kerja masjid (DKM) Al-Ikhlas, bahkan keuangan sebagian diserahkan kepada IREMA serta menyerahkan kegiatan di masjid kedepan ditangani oleh IREMA karena DKM sudah percayai kalau pemuda bisa mengemban amanah itu serta sebagai bentuk pembelajaran bagaimana berkiprah dimasyarakat.

Pembahsan ketiga yaitu pengaktifan kembali jadwal ronda di kampung Cikiray. Selama ini aktifnya ronda di kampung cikiray atau daerah lain pada umumnya dikarenakan ada aktivitas kriminal yang terjadi seperti pencurian dan lain sebagainya. Inisiatif dari kepala pemuda (Zaenal) bahwa ronda harus tetap berjalan walan aman maupun tidak dari tindakan krimilal, selain untuk tetap jaga – jaga juga untuk menghidupkan suasana kampung dimalam hari sehingga keharmonisan dan kehangatan kampung tetap terjaga.

Tiga bahasan tersebut diharapkan semua pihak dapat direalisasikan, mengingat kefakuman atas kegiatan kepemudaan cukup terlihat. Semua berharap ini menjadi awal bangunnya warga Cikiray yang sudah sekian lamanya tertidur karena aktivis kepemudaan sedikit-sedikit mulai melepas namun masih menunggu penggantinya kelak.



0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites