Cikiray adalah sebuah
kampung yang berada di Karyasari kecamatan Cikedal Kabupaten Pandeglang
Provinsi Banten. Kampung yang dulunya memiliki selogan “Lembur intelek dan
Jawara” ini kini mulai berubah setelah perginya beberapa tokoh kampung cikiray
yang pada saat itu gencar dalam melakukan sosialisasi kemasyarakan.
Berdasarkan obrolan saat
dengan masyarakat kampung cikiray baik yang pendatang maupun pribumi, dulu
cikiray ini begitu disegani oleh masyarakat luar sehingga ketika akan memasuki
kampung ini ada keseganan tersendiri. Misalnya dalam pencarian jodoh bagi laki
– laki yang ingin mempersunting perempuan kampung cikiray, mereka begitu
memperhitungkan kelayakan diri untuk berbuat demikian karena di dalamnya
terdapat jawara – jawara dan juga berintelek warganya. Warga luar mengukur diri
dengan bertanya sendiri maupun oleh orang lain, “Bisa apa lo mau masuk atau
mempersunting orang cikiray? Udah bisa ngaji?”. Itu mungkin salah satu hal yang
membuat kampung cikiray begitu diseganinya pada masa itu.
Perjuangan para kokolot
cikiray tak berhenti sampai disitu, para pemuda yang peduli terhadap perubahan
ke arah yang lebih baik di kampung inipun meneruskan usaha kokolot untuk
kemaslahatan pemuda dan kampung cikiray, Tapi tentu halang rintang itu selalu
ada. Di zamannya Abah amih, suasana kampung cikiray begitu hidupnya dengan
masyarakat yang kontra terhadap program beliau bukan saja dari kalangan pemuda
melainkan juga kokolot kp.cikiray. kegiatan hari raya maupun hari – hari
bersejarah bisa dibilang mungkin selalu diisi dengan kegiatan – kegiatan. Jalan
aspal juga menjadi perhatian ketika itu meskipun penggunanya masih sedikit
karena hanya sebagian kecil masyarakat yang memiliki kendaraan. Pada saat itu
Abah Amih mungkin bisa dibilang salah satu dari masyarakat yang memiliki
kendaraan motor, dia mencoba bernegosiasi dengan lembaga setempat serta
masyarakat. Namun ketika dia berlobi dengan masyarakat yang terjadi adalah
penolakan dari beberapa orang yang berparadigma bahwa hal demikian hanya akan
menguntungkannya saja sebagai orang yang memiliki kendaraan sedangkan
kebanyakan masyarakat masih belum memiliki kendaraan. Hal tersebut tidak
menyurutkan semangat Abah Amih dan kawan – kawan untuk menjelaskan dan
meneruskan proyek pembangunan jalan aspal ini yang akhirnya dapat
terealisasikan juga.
Perjuangan belum berakhir
yang disusul oleh pemuda – pemuda baru, regenerasi dilanjut. Pada masa itu
ketika cikiray masih pada kecamatan menes ada kegiatan peringatan HUT RI yang
ketika itu dengan inisiatifnya membuat replika kapal untuk mengiring adik –
adik sekolah dasar yang hendak mengikuti upacara. Karena memang ada selebaran
dari kecamatan untuk membuat karya kampung yang nantinya akan dinilai. Hampir
semua masyarakat ketika itu turun mengikuti longmarch ke kecamatan menes baik
anak – anak maupun orang tua.Sempat juga ketiaka hari raya di kampung ini ada
hiburan dangdutan yang pemainnya adalah pemuda pemudi cikiray. Sempat juga di
hari raya di lain waktu mengadakan konser band yang pemainnya juga dari pemuda
cikiray.
Di tahun 2014, hari raya
hanya diisi dengan kegiatan Panjat Pinang
dan bola sepak antar RT,, kemudian seminggu sebelum HUT RI para pemuda
berlobi dengan kokolot untuk memeriahkan hari kemerdekaan tersebut dan alhasil
pemuda didukung oleh kokolot. Kegiatan ketika itu dalam perencanaannya yaitu
menghias kampung, pembuatan gapura, dan pawai ke kecamatan cikedal pada hari H.
Namun dalam rapat itu juga dibahas mengenai pengaktifan kembali jadwal ronda
dan pergantian kepengurusan Irema. Setelah rapat itu, pada hari minggu paginya
diadakan kerja bakti pembersihan jalan. Ketka itu masyarakat berinisiatif untuk
bergerak dari tonggoh ke landeh dan memang ada hal berbeda dari sebelumnya
yaitu masyarakat proaktif dalam gotongroyong tersebut.
Hari kemerdekaan juga dirasa
berbeda dengan sebelum – sebelumnya, jika sebelumnya kemerdekaan hanya diisi
dengan upacara bagi anak sekolah, lain halnya dengan tahun 2014 ini. Pemuda
berinisiatif tanpa ada instruksi dari siapapun ingin memeriahkan hari
kemerdekaan yaitu dengan melakukan hiasan kampung, pembuatan gapura, dan pawai
ke kecmatan cikedal. Dalam pembuatan gapura ternyata dilirik oleh pemilik salon
baru untuk dijadikan ajang perlombaan antar RT, dan saat pengumuman RT 2 (Gang
Penghulu Yas’a) menjadi juara pertama, RT 3 (Gang Ki Suntika) juara kedua dan
RT 1 (Gang Ustadz Mudib) juara 3. Pemberian nama gang ini bertujuan untuk
mengingat para pahlawan kampung cikiray di masanya dan berdasarkan tempat
tinggalnya dari RT mana, dan Kegiatan dilanjutkan dengan kesenian kuda lumping
Ma Rohani. Tidak hanya itu ternyata dari kecamatan ada penilaian terhadap
gapura yang membuat kp.Cikiray menjadi juara 1,2, dan 3 karena memang dari
kampung lain tidak ada yang membuat gapura.



Kondisi kp.Cikiray saat ini
bisa dibilang memprihatikan, pasalnya baik pemuda maupun orang tua kini mulai
sedikit kurang kesinergisan. kita akan mulai dari anak usia dini, dalam hal
pembentukan karakter yang paling ideal adalah saat usia dini. Pengajarann itu
bisa didapatkan utamanya di rumah yaitu bimbingan orang tua, namun pengajaran
lain juga dapat didapat dari lingkungan berupa teman sepermainan dan tentunya
dari pendidikan sekolah baik negri,
swasta, maupun sekolah agama. Di cikiray sendiri ada sekolah agama berupa
majelis (MTTS) yang sasaran utamanya adalah anak – anak usia dini namun tidak
menutup pintu untuk remaja dan dewasa. Majelis ini milik pribadi yaitu Abah
Junaedi, namun sayangnya Abah Junaedi ini punya Faham lebih ke Muhamadiyah
dengan kondisi Faham masyarakat ke Nahdotul’Ulama, seharusnya hal ini bukan
menjadi hal yang membuat perbedaan yang menjurus kepada paradigma masyarakat
juga. Kegiatan di majelis ini yaitu les pada sore hari dan ngaji pada malam
hari ba’da magrib, namun kondisi saat ini bahwa les belum kembali diaktifkan
karena memang pemuda – pemudi yang membantu Abah Junaedi dan Ibu Eha berada di
luar daerah karena pendidikan. Hal ini membuat proses belajar mengajar hanya
dilakukan pada malam hari. Sekolah formal yang ada di kampung ini yaitu
Madrasah Ibtidaiyah (MI MA Cikiray) dan sempat pula di sekolah ini ada SMP MA
namun hanya bertahan 3 tahun sekolah SMP ini tidak aktif lagi. Saat ini anak – anak begitu terpaku dengan
hanya mengandalkan sekolah formal berijazah. Hal tersebut membuat anak – anak
tidak memiliki akttifitas yang kreatif sehingga mayoritas setelah pulang
sekolah adalah bermain. Memang itu suatu kewajaran bagi setiap anak dan memang
hak mereka, tapi harus dipikirkan pula bagaimana outputnya kedepan nanti jika
anak – anak hanya melakukan aktifitas demikian?
Beranjak kepada kehidupan
pemuda, mungkin saat ini dalam paradigma para pemuda bahwa hidup itu hanya satu
kali maka dari itu nikmatilah, kita bekerja mencari uang untuk kehidupan sendiri
dan keluarga baru bagi yang sudah memiliki keluarga. Namun naas dalam kehidupan
pemuda yang sekolah menengah baik tingkat pertama maupun tingkat atas juga
tidak mau ketinggalan abis bagian larut dalam kehidupan selayaknya orang yang
sudah berpenghasilan sendiri. Kondisi yang memprihatinkan bagi generasi penerus
karena mereka dihadapkan dengan yang namanya hal yang memabukan baik itu berupa
minuman maupun berupa batangan yang dihisap seperti rokok, belum pasti
informasi mengenai serbuk napi kalau dari isu memang ada juga penggunanya. Hal
ini membuat kehidupan konsumtif para pemuda makin menjadi karena dibiasakan
dengan ketenangan keasyikan dalam pergaulan. Entah dari mana mereka mendaptkan
barang – barang itu tapi yang pasti mereka punya jaringan itu.
Dalam rapat evaluasi yang
diselenggarakan pemuda yang mengundang para bapak – bapak kampung Cikiray,
mungkin disana ajangnya mengeluarkan unek – unek bapak – bapak tentang
bagaimana kesalnya mereka pada perilaku remaja dan pemuda saat itu. Beberapa
perwakilan dari mereka mengutarakan tentang perbaiakan akhlak yang harus
diutamakan, tinggalkan perilaku mabuk dan berjudi apalagi di malam atau hari
raya. Banyak hal yang diutarakan ketika malam itu yang membuat pemuda merasa
terpojokkan. Tapi kalau dianalisis, perilaku pemuda bigitu karena tidak adanya
kegiatan yang mewadahi kegiatan produktif mereka, dan karena hal itu membuat
pemuda berpikir daripada kita gak ada kerjaan atau gabut mendingan kita
nongkrong, becanda ketawa ketiwi, nyanyi – nyanyi, atau yang lainnya. Dalam
keterpojokan masukan itu tidak sepenuhnya juga pemuda disalahkan karena
bagaimanapun pemuda – pemuda itu adalah anak – anaknya orang tua dari kampung
cikiray yang berarti tanggung jawab penuh seharusnya berada ditangan orang tua
dan jangan begitu mengandalkan aparat karena mereka juga tidak enak hati kalau
harus memarahi anak orang lain. Para aparat takut menyinggun perasaan orang tua
yang anaknya ia marahi sehingga menimbulan konflik nantinya.
Pembahasan intinya yaitu tiga bahasan 1). Memperingati hari
kemerdekaan 17 Agustus 1945. 2). Pergantian ketua dan pengurus Ikatan Remaja
Masjid Al-Ikhlas (IREMA). 3). Pengaktifan kembali jadwal ronda.
Pembahasan pertama yaitu
peringatan Kemerdekaan Indonesia yang tahun ini genap Indonesia merdeka 69
Tahun. Pemuda mengutarakan rencana mereka selama seminggu sebelum hari H
(Kemerdekaan) yaitu pembuatan gapura tiap gang sekalian lomba antar RT yang
terdiri dari 3 RT, gotong royong bersih-bersih jalan, pemasangan bendera dan
umbul-umbul sepanjang jalan, pemasangan lampu sepanjang jalan kp.Cikiray.
rencana pemuda tersebut disambut baik oleh bapak – bapak dan kokolot kp.
Cikiray dan siap membantu pelaksanaannya.
Pembahasan kedua yaitu
pemilihan ketua dan pengurus IREMA yang sebelumnya diketuai oleh Epi. Pemilihan
berlangsung secara musyawarah pemuda dan kokolot dan terpilihlah Agus (Gowi)
sebagai ketua dan Ipan sebagai bendahara. Hal inipun disambut baik oleh kokolot
serta dewan kerja masjid (DKM) Al-Ikhlas, bahkan keuangan sebagian diserahkan
kepada IREMA serta menyerahkan kegiatan di masjid kedepan ditangani oleh IREMA
karena DKM sudah percayai kalau pemuda bisa mengemban amanah itu serta sebagai
bentuk pembelajaran bagaimana berkiprah dimasyarakat.
Pembahsan ketiga yaitu
pengaktifan kembali jadwal ronda di kampung Cikiray. Selama ini aktifnya ronda
di kampung cikiray atau daerah lain pada umumnya dikarenakan ada aktivitas
kriminal yang terjadi seperti pencurian dan lain sebagainya. Inisiatif dari
kepala pemuda (Zaenal) bahwa ronda harus tetap berjalan walan aman maupun tidak
dari tindakan krimilal, selain untuk tetap jaga – jaga juga untuk menghidupkan
suasana kampung dimalam hari sehingga keharmonisan dan kehangatan kampung tetap
terjaga.
Tiga bahasan tersebut
diharapkan semua pihak dapat direalisasikan, mengingat kefakuman atas kegiatan
kepemudaan cukup terlihat. Semua berharap ini menjadi awal bangunnya warga
Cikiray yang sudah sekian lamanya tertidur karena aktivis kepemudaan
sedikit-sedikit mulai melepas namun masih menunggu penggantinya kelak.